Postingan

Jendela Kaca

Pasangan muda yang baru menikah  menempati rumah di sebuah komplek  perumahan. Suatu pagi, sewaktu sarapan, si istri  melalui jendela kaca. Ia melihat  tetangganya sedang menjemur kain. "Cuciannya kelihatan kurang bersih  ya", kata sang istri. "Sepertinya dia tidak tahu cara mencuci  pakaian dengan benar. Mungkin dia perlu sabun cuci yang  lebih bagus." Suaminya menoleh, tetapi hanya diam  dan tidak memberi komentar apapun. Sejak hari itu setiap tetangganya menjemur pakaian, selalu saja sang istri memberikan komentar yang sama tentang kurang bersihnya si tetangga mencuci pakaiannya. Seminggu berlalu, sang istri heran melihat pakaian-pakaian yang dijemur tetangganya terlihat cemerlang dan bersih, dan dia berseru kepada suaminya: "Lihat, sepertinya dia telah belajar bagaimana mencuci dengan benar. Siapa ya kira-kira yang sudah mengajarinya? " Sang suami berkata, "Saya bangun pagi-pagi sekal...

filosof ingin menikah

Seorang filosof ingin menikah, kawan kawannya menyarankan tiga orang gadis berparas cantik. lalu filosof itu menguji ketiga gadis tersebut dengan memberikan beberapa butir permata kepada mereka.  Gadis pertama menerima pemberian permata itu dengan perasaan gembira dan mengucapkan terimakasih. kemudian gadis itu berkata " selama hidup saya belum pernah melihat permata yang lebih indah daripada in i". Gadis kedua berkata : " kalau permata ini ditambah dengan emas pasti akan menjadi kalung yang indah". Gadis ketiga berkata" ambillah kembali permata ini dan simpanlah karena bagiku cintamu sudahlah cukup." Akhirnya filosof itu menentukan pilihannya kepada gadis yang pertama, alasannya dia adalah gadis yang berakal, ridho dengan kenyataan dan merasa bahagia dengan pemberian yang diterimanya. gadis kedua, dari jawaban yang diberikan, dia termasuk orang yang tidak ridho dengan apa yang ia miliki. adapun gadis yang ketiga cenderung tidak hidup dalam alam kenyataan ...

Apakah Anakku Harus Ranking 1 ??

“Aku ingin menjadi orang yang bertepuk tangan di tepi jalan...” Di kelasnya terdapat 50 orang murid, setiap kali ujian, anak perempuanku tetap mendapat ranking ke-23. Lambat laun membuat dia mendapatkan nama panggilan dengan nomor ini, dia juga menjadi murid kualitas menengah yang sesungguhnya. Sebagai orangtua, kami merasa nama panggilan ini kurang enak diden gar,namun ternyata anak kami menerimanya dengan senang hati. Suamiku mengeluhkan ke padaku, setiap kali ada kegiatan di perusahaannya atau pertemuan alumni sekolahnya, setiap orang selalu memuji-muji “Superman cilik” di rumah masing-masing, sedangkan dia hanya bisa menjadi pendengar saja. Anak keluarga orang, bukan saja memiliki nilai sekolah yang menonjol, juga memiliki banyak keahlian khusus. Sedangkan anak kami rangking nomor 23 dan tidak memiliki sesuatu pun untuk ditonjolkan. Dari itu, setiap kali suamiku menonton penampilan anak-anak berbakat luar biasa dalam acara televisi, timbul keirian dalam hatinya sampai matanya begit...

semua dibangun diatas pondasi labil ekonomi bernama HUTANG

SEMU: Saya ingat sekitar 2 tahun yg lalu sahabat saya berkata (ketika itu kami satu kendaraan berdua), "Ris...lihat sekeliling kita, sepanjang jalan yg kita lalui...orang2 banyak membangun ruko disepanjang jalan2 di samarinda ini. Artinya apa ris? Artinya mereka bergerak..roda ekonomi mereka berputar cepat. Kita aja yg mungkin jalan ditempat..." Benar...apakah anda juga melihat hal yg sama di kot a anda? Bahwa pertumbuhan pembangunan entah itu berupa property atau kendaraan sangat cepat sekali. Dan tahukah anda juga? Bahwa itu semua dibangun diatas pondasi labil ekonomi bernama HUTANG. Hampir semua dibangun dengan hutang, dibeli dengan hutang, diraih dengan hutang, dan dikuasai hutang dan hutang. Saya harap anda bukanlah orang yg hidupnya bekerja untuk membayar hutang bank. Saya harap anda bukanlah orang yg punya gaji 10juta tapi beban kredit 9juta. Atau kemudian penghasilan anda naik jadi 30juta dan hutang cicilan anda menjadi 29,5juta. Atau bahkan ketika penghasilan anda ...

Renungan Pendidikan Qurani : Reorientasi (Lingkungan) Kependidikan

“Sarjana kok jualan buku ?” “Kuliah susah-susah kok cuma kembali ke sawah tokh ?” “Kenapa ndak buka praktek di kota saja mbak ? Kok malah bikin klinik kecil di kampung ?” Pertanyaan-pertanya an standar seperti ini masih sering kita dengar di tengah-tengah masyarakat, bahkan dari kalangan orang tua para siswa atau m ahasiswa. Pertanyaan-pertanya an itu sudah menjadi semacam “tekanan sosial”, bahwa kalau sudah kuliah maka mestilah jadi orang kantor, harus jadi pegawai di kota, berdasi, punya jam kerja 8 – 5 setiap hari, dan seterusnya. Ironis memang, di satu sisi kita mengeluhkan kualitas pendidikan di negeri ini, sementara disadari atau tidak, kita juga memiliki sumbangsih tidak kecil pada kesalahan orientasi pendidikan di negeri ini, salah satunya lewat pertanyaan “remeh temeh” tadi. *** Mungkin anda ingat kasus seorang ibu yang membunuh tiga orang anaknya di Bandung karena khawatir akan masa depan anaknya di tengah himpitan ekonomi yang makin berat. Menjadi menarik, karena sang ibu ad...

Secangkir Coklat Panas

Gambar
Sekelompok alumni melakukan reuni, dan kemudian memutuskan untuk pergi mengunjungi profesor favorit mereka yang sudah pensiun. Saat berkunjung, pembicaraan mereka berubah menjadi keluhan mengenai stres pada kehidupan dan pekerjaan mereka. Profesor itu menyajikan coklat panas pada tamu-tamunya. Ia pergi ke dapur dan kembali dengan coklat panas di teko yang besar dan berbagai macam cangkir: porselen, gelas, kristal, dan lain-lain; sebagiannya bagus dan berharga mahal, akan tetapi sebagian lagi bentuknya biasa saja harganya murah. Ia mengatakan kepada mereka untuk mengambil sendiri coklat panas tersebut. Ketika mereka semua memegang secangkir coklat panas di tangan mereka, profesor yang bijak berkata, “Perhatikan, semua cangkir yang bagus dan mahal telah diambil. Yang tersisa, hanyalah cangkir yang biasa dan murah. Memang, adalah normal bagi kalian untuk menginginkan yang terbaik. Namun, itu adalah sumber dari masalah dan stres kalian.” “Cangkir tidak menambahkan kualitas dari co...